IKMI Se-Wilayah Cirebon

Membangun Daerah, Berkarya untuk Negeri.

Ikatan Keluarga Mahasiswa Indramayu (IKMI) Se-Wilayah Cirebon. Wadah kolaborasi dan pengembangan diri bagi mahasiswa Indramayu untuk memberikan kontribusi nyata.

Garis Besar Haluan IKMI

KEMAHASISWAAN

Meningkatkan kualitas intelektual mahasiswa.

KEKELUARGAAN

Mempererat solidaritas dan kebersamaan.

KEDAERAHAN

Menjaga identitas dan melestarikan nilai daeran.

SOSIAL

Berperan aktif dalam kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat

Logo Departemen 1
Logo Departemen 2
Logo Departemen 3
Logo Departemen 4
Logo Departemen 5
Logo Departemen 6
Logo Departemen 7
Logo Departemen 8
Logo Departemen 9
Logo Departemen 10
Logo Departemen 11
Logo Departemen 12
Logo Departemen 13
Logo Departemen 14

Tentang IKMI

Memayu Ing Jagat

Kami hadir bukan sekadar sebagai organisasi kedaerahan, melainkan ruang bertumbuh. IKMI menyatukan mahasiswa Indramayu di Cirebon untuk menjadi penggerak kesadaran kritis, menjaga nilai historis, dan membangun jejaring yang berdampak positif bagi kemajuan daerah.

AkademisItelektualKeluarga
Baca Sejarah Lengkap IKMI

Pengurus Pusat

Mengenal Kabinet Sri Nawikasa

Lihat Struktur Organisasi
Raden Hafidz Rahmatullah

IKMI Cirebon

Raden Hafidz Rahmatullah

Ketua Umum

Muhamad Walid

IKMI Cirebon

Muhamad Walid

Wakil Ketua Umum

Soliha

IKMI Cirebon

Soliha

Sekretaris Umum I

Atinah

IKMI Cirebon

Atinah

Sekretaris Umum II

Hallimatul Syahdiyah

IKMI Cirebon

Hallimatul Syahdiyah

Bendahara Umum I

Uswatun Hasanah

IKMI Cirebon

Uswatun Hasanah

Bendahara Umum II

Mochammad Naufal Hilmy

IKMI Cirebon

Mochammad Naufal Hilmy

Ketua Departemen Kaderisasi

Derli Yanah

IKMI Cirebon

Derli Yanah

Sekretaris Departemen Kaderisasi

Sulthon Azizan Zanuar

IKMI Cirebon

Sulthon Azizan Zanuar

Anggota Departemen Kaderisasi

Fikri Haikal Fasa

IKMI Cirebon

Fikri Haikal Fasa

Anggota Departemen Kaderisasi

Azzumardi Azra

IKMI Cirebon

Azzumardi Azra

Ketua Departemen Kajian & Advokasi

Amara Dilla Dia Dina

IKMI Cirebon

Amara Dilla Dia Dina

Sekretaris Departemen Kajian & Advokasi

Muhammad Abdul Aziz

IKMI Cirebon

Muhammad Abdul Aziz

Anggota Departemen Kajian & Advokasi

Galih Satria Bontot

IKMI Cirebon

Galih Satria Bontot

Anggota Departemen Kajian & Advokasi

Sholelil Ulka Ababiluna

IKMI Cirebon

Sholelil Ulka Ababiluna

Anggota Departemen Kajian & Advokasi

Ahmad Syahid

IKMI Cirebon

Ahmad Syahid

Ketua Departemen PSDA

Haidar Rasyikh Mubarok

IKMI Cirebon

Haidar Rasyikh Mubarok

Sekretaris Departemen PSDA

Akhmad Yani

IKMI Cirebon

Akhmad Yani

Anggota Departemen PSDA

Elok Satria Mulyawati

IKMI Cirebon

Elok Satria Mulyawati

Anggota Departemen PSDA

Rifqi Ramadhani

IKMI Cirebon

Rifqi Ramadhani

Anggota Departemen PSDA

Muchammad Fachri

IKMI Cirebon

Muchammad Fachri

Anggota Departemen PSDA

Muhammad Muzaki

IKMI Cirebon

Muhammad Muzaki

Ketua Departemen Ekotif

Reisya Kamalia Ihsana

IKMI Cirebon

Reisya Kamalia Ihsana

Sekretaris Departemen Ekotif

Farrah Rizka Rena Fadillah

IKMI Cirebon

Farrah Rizka Rena Fadillah

Anggota Departemen Ekotif

Saipul Ernawan

IKMI Cirebon

Saipul Ernawan

Anggota Departemen Ekotif

Riza Alraihany

IKMI Cirebon

Riza Alraihany

Ketua Departemen Komdigi

Siti Fatimah

IKMI Cirebon

Siti Fatimah

Sekretaris Departemen Komdigi

Naofal William Atalah

IKMI Cirebon

Naofal William Atalah

Anggota Departemen Komdigi

Safitriani Syaroni

IKMI Cirebon

Safitriani Syaroni

Anggota Departemen Komdigi

Siti Rohmawati

IKMI Cirebon

Siti Rohmawati

Anggota Departemen Komdigi

Ziantoro Nuji Wijaya

IKMI Cirebon

Ziantoro Nuji Wijaya

Anggota Departemen Komdigi

Faiz Ubaidilah Fazri

IKMI Cirebon

Faiz Ubaidilah Fazri

Ketua Departemen HPM

Abdul Hasib

IKMI Cirebon

Abdul Hasib

Sekretaris Departemen HPM

Very Kurniawan

IKMI Cirebon

Very Kurniawan

Anggota Departemen HPM

Marcel Nur Mu'ijj

IKMI Cirebon

Marcel Nur Mu'ijj

Anggota Departemen HPM

Danu Pratama

IKMI Cirebon

Danu Pratama

Anggota Departemen HPM

Jejak Langkah

Aksi Nyata & Agenda Kami

Pantau pergerakan organisasi melalui program kerja dan kegiatan terdekat.

Ruang Gagasan

Kabar & Pemikiran Terbaru

Baca Semua Tulisan
Opini

Sumatra di Ambang Krisis: Menilik Benang Merah Kerusakan Ekologi yang Kian Mengkhawatirkan

Indonesia sejak lama diromantisasi sebagai zamrud khatulistiwa—negeri berselimut tanah subur, laut berlimpah, dan pegunungan yang menyimpan kekayaan tak ternilai. Alam seolah menakdirkan Nusantara sebagai ruang hidup yang penuh keberkahan. Namun, realitas hari ini menampar kesadaran kita: keistimewaan tersebut perlahan menyusut menjadi sekadar memori.Kekayaan alam yang dahulu menjadi kebanggaan kini terkoyak oleh ambisi eksploitatif. Hutan tropis Indonesia yang memegang peran vital sebagai penyeimbang ekologi global ditebang habis demi keuntungan sesaat. Sungai-sungai yang dahulu menjadi urat nadi kehidupan kini mengalirkan limbah keruh, sementara udara makin pekat oleh polusi industri.Menggugat Narasi Anthropocene: Siapa Sebenarnya "Manusia"?Dalam konteks krisis ini, sebuah pertanyaan mendasar harus diajukan: siapakah aktor yang paling bertanggung jawab?Selama dua dekade terakhir, kerusakan lingkungan sering kali dibebankan secara pukul rata kepada umat manusia melalui konsep Anthropocene—sebuah era geologis di mana aktivitas manusia dianggap sebagai penentu utama arah perubahan bumi. Namun, menempatkan "manusia" sebagai entitas tunggal penyebab krisis adalah narasi yang cacat. Pandangan ini gagal menangkap ketimpangan relasi kuasa, akses ekonomi, dan disparitas pola konsumsi di antara manusia itu sendiri.Menyamaratakan seluruh umat manusia sebagai dalang krisis ekologi memunculkan dua persoalan fundamental:Fatalisme Ekologis: Menyatukan umat manusia dalam satu kategori membuat krisis lingkungan tampak sebagai keniscayaan alamiah dari eksistensi manusia. Akibatnya, solusi apa pun akan terasa fana, karena manusia itu sendiri dianggap sebagai parasit yang inheren bagi bumi.Ketidakadilan Struktural: Narasi ini menutupi fakta bahwa tidak semua manusia memiliki kendali atau daya rusak yang sama. Seorang masyarakat adat yang bertahan hidup dengan memungut hasil hutan jelas tidak bisa disejajarkan—apalagi disalahkan setara—dengan oligarki pemilik ratusan ribu hektare konsesi sawit atau korporasi tambang berskala multinasional.Ketimpangan ini tervalidasi oleh fakta lapangan. Laporan Greenpeace Indonesia mengungkap keberadaan sekitar 1.300 perusahaan yang beroperasi mengangkangi Daerah Aliran Sungai (DAS) dari Aceh hingga Sumatra Barat. Hegemoni korporasi ini menjadi motor utama deforestasi dan degradasi ekologi di Sumatra. Ironisnya, alih-alih dihentikan, kerusakan ini justru dilegalkan melalui izin konsesi yang diobral oleh negara.Akar dari tata kelola yang merusak ini dapat ditarik mundur hingga era Orde Baru. Kebijakan seperti UU Penanaman Modal Asing dan UU Kehutanan pada masa Soeharto menjadi karpet merah bagi eksploitasi hutan besar-besaran. Hutan didistribusikan kepada kelompok elite yang berjejaring dengan kekuasaan. Sejak saat itu, paradigma pengelolaan ruang berubah drastis: tanah dan hutan bukan lagi ruang hidup yang harus dirawat keberlanjutannya, melainkan sekadar komoditas ekstraktif pengeruk kapital.Oleh karena itu, gagasan Anthropocene perlu direkonstruksi menjadi Capitalocene. Seperti yang diutarakan oleh para pemikir ekologi politik, perubahan drastis bumi tidak terlepas dari corak produksi kapitalisme. Kelas pemodal—dengan sokongan instrumen politik—adalah aktor yang memegang kendali atas penghancuran ekosistem."Krisis ekologis adalah ketidakadilan dan kegagalan sistem pengurusan sumber daya alam yang berujung pada rusaknya ekosistem serta hancurnya kehidupan rakyat." — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)Dua kata kunci dari WALHI—ketidakadilan dan kegagalan pengurusan—menegaskan bahwa krisis ini bukanlah persoalan moral individu, melainkan patologi struktural.Kebijakan Defensif dan Solusi Palsu Perdagangan KarbonAlih-alih membedah dan menyelesaikan akar struktural tersebut, arah kebijakan pemerintah beberapa tahun terakhir justru memperburuk keadaan. Di bawah pemerintahan saat ini, lahir rentetan regulasi yang memfasilitasi ekspansi industri ekstraktif sekaligus mengebiri instrumen perlindungan lingkungan dan hak publik, di antaranya:Undang-Undang Cipta KerjaRevisi Undang-Undang MinerbaRevisi Undang-Undang KPKUndang-Undang Ibu Kota Negara (IKN)Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) baruRegulasi-regulasi ini semakin mengukuhkan cengkeraman korporasi atas sumber daya alam dan mempersempit ruang veto rakyat.Di tengah ancaman krisis iklim yang kian mencekik, respons negara justru bernuansa kosmetik melalui mekanisme perdagangan karbon. Skema ini tidak lebih dari greenwashing—cara baru untuk memperpanjang napas industri ekstraktif dengan mengubah alam menjadi komoditas finansial (finansialisasi alam). Praktik di lapangan menunjukkan bahwa pasar karbon sering kali berujung pada perampasan wilayah kelola rakyat, kriminalisasi masyarakat lokal, dan reduksi makna hutan yang kompleks menjadi sekadar gudang penyimpan karbon.Kesimpulan: Jalan Keluar yang BerkeadilanMenanam pohon atau memperluas pasar karbon tidak akan pernah memadai jika kran utama penyebab krisis—yakni pembakaran energi fosil dan deforestasi industri—tidak ditutup rapat. Solusi yang dibutuhkan adalah pemotongan emisi secara drastis, mengikat, dan langsung pada sumbernya guna menjaga ambang batas suhu global di bawah 1,5°C.Krisis ekologis di Sumatra dan wilayah Nusantara lainnya bukan kutukan yang dibawa oleh kodrat "manusia". Ini adalah krisis yang lahir dari rahim sistem produksi yang rakus dan oligarki kekuasaan. Selama pengelolaan alam masih didikte oleh nalar kapitalisme ekstraktif, selama perizinan mengabaikan daya dukung lingkungan, dan selama rakyat dirampas hak kelolanya, maka tragedi ekologis ini akan terus menjadi siklus yang menghancurkan masa depan.

IK
15 Juni 2026
Bergabung Sekarang

Jadilah Bagian dari Perubahan

Bersama IKMI, mari membangun jejaring, mengasah potensi, dan memberikan dampak bagi Indramayu.

Daftar Sekarang